Archive for May, 2006
Sistem Informasi Geografis
SUDAH dua tahun ini panen sarang walet milik Habsiyah selalu jeblok. Kalau biasanya setiap kali panen ibu enam anak itu bisa memperoleh 5 kilogram sarang walet, kini paling banter cuma 2 kilogram. “Populasi walet sekarang sudah berkurang,” kata Habsiyah, 44 tahun, warga Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, itu.
Habsiyah tak habis pikir, mengapa rumah walet miliknya tak banyak dihuni burung layang-layang lagi. “Mungkin karena sekarang sudah banyak pabrik,” ujarnya. Polusi udara yang dihasilkan pabrik, menurut Habsiyah, menyebabkan suhu makin kering dan panas. Kondisi ini membuat burung walet menjauh, memilih bersarang di daerah bersuhu dingin dan lembap.
Situasi tak jauh beda juga terjadi di rumah walet Habsiyah lain di Kraksan, Probolinggo, Jawa Timur. Selama tiga tahun Habsiyah membuka rumah walet di situ, cuma menghasilkan 8 kilogram sarang walet. Itu pun harganya anjlok, cuma Rp 9 juta per kilogram dari seharusnya Rp 20 juta. Harga anjlok lantaran sarang walet diserang semut dan kecoa.
Hasil itu membuat Habsiyah buru-buru ingin menjual rumah waletnya. Ia ingin mencari lokasi baru untuk membangun rumah tempat walet bersarang. “Tapi di mana?” katanya. Kebingungan Habsiyah ini sepertinya akan terjawab berkat penemuan Ni Kadek Ariasih. Gadis berusia 26 tahun asal Bali ini berhasil merancang peranti lunak untuk menentukan lokasi sarang walet paling ideal.
Karya itu menjadi tugas akhir Kadek di Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Surabaya. Skripsi berjudul “Menentukan Lokasi Sarang Walet di Bali dengan Metode Fuzzi” ini membawa Kadek lulus dengan predikat cum laude. Ia mengantongi indeks prestasi komulatif (IPK) 3,52 dari paling tinggi 4,0.
Program Kadek mengolah sistem informasi geografis (GIS) untuk menentukan sarang walet memang menarik. Cukup bermodal komputer Pentium 3 dengan memori 128 sampai 256 megabyte, kita bisa mengetahui apakah sebuah titik di peta layak menjadi sarang walet. Misalnya, klik sebuah titik di atas peta Pulau Bali. Titik yang dipilih akan membesar, “Lalu klik sekali lagi untuk menampilkan informasinya,” kata Kadek. Maka, akan tampil seluruh informasi lokasi, berikut nilai kelayakannya sebagai daerah lokasi sarang walet.
Kenapa walet dipilih Kadek untuk mengekplorasi data GIS? Sarang walet merupakan komoditas menggiurkan di negeri ini. Produksi liur walet menempatkan Indonesia sebagai penyuplai 80% kebutuhan dunia. Diperkirakan, tiap tahun Indonesia menghasilkan 300 ton sarang walet. Harganya pun menawan. Sarang walet asal gua Rp 10 juta per kilogram. Sedangkan sarang dari rumah walet di perkotaan mencapai Rp 20 juta per kilogram. Mahalnya harga sarang walet kota lantaran bentuknya lebih bagus dan bersih ketimbang sarang walet alam.
Bali menjadi lokasi penelitian Kadek, lantaran daerah ini cocok untuk populasi walet. Banyaknya danau, sungai, pantai, dan hampir tak ada polusi membuat walet betah bersarang di Pulau Dewata itu.
Â
May 31st, 2006
ewalet.onesite.com
Bermula sedekat yang lalu apabila burung walit berhijrah dari gua ke bandar menjadikan bangunan lama yang mempunyai suasana hampir sama dengan keadaan dalam gua sebagai habitat barunya Akibat mempunyai nilai pasaran yang tinggi banyak premis dalam kawasan bandar telah diubahsuai untuk perladangan walit.
Pengubahsuaian premis asasnya ialah menjadikan suasana dalamannya sama dengan gua. terutamanya gelap dan lembab. Antara ubahsuai utama dilakukan ia lah :-
Penutupan pintu dan tingkap
Pembinaan lubang pengudaraan
Penyediaan pintu masuk
Penyusunan bluti di siling sebagai tempat pembiakan
Sistem irigasi dalam dan luar bangunan bagi mengawal suhu
Memasang sistem audio
Suasana persekitaran yang diperlukan dalam rumah burung ialah suhu yang setabil antara 25 hingga 28 darjah celsius, kelembapan antara 80 hingga 90 peratus dan kegelapan kurang dari 1 lux. Bumbung bangunan hendaklah dibuat daripada bahan-bahan yang dapat menahan kepanasan matahari.Pembinaan persekitaran yang sesuai telah menyebabkan burung walit sesuai dengan habitat barunya dan memberi pulangan yang tinggi kepada pemiliknya.
Pembinaan Rumah Walit
Mengikut buku Amalan Baik Untuk Perladangan Burung Walit Aerodramus dan Perumahannya” terbitan Jabatan Perkhidmatan Haiwan, premis hendaklah dibina di atas tanah pertanian atau perusahaan pada jarak minima 100 meter dari kawasan kediaman. Disamping itu kelulusan daripada Pihakberkuasa Tempatan perlu diperolihi.
Reka bentuk bangunan perlulah berdasarkan kepada kehendak dan keperluan burung bagi menjamin burung walit akan menetap dan terus menetap. Rumah walit perlu disediakan roving room kerana semasa memasuki bangunan burung walit akam berputar-putar dulu mengikut putaran jam sebelum menuju ke sarangnya. Resting room perlu disediakan sebagai tempat burung walit beristerehat dan membina sarang. Lubang keluar masuk burung sesuai diletakan di bahagian atas bangunan dengan arah bertentangan daripada matahari naik atau jatuh bagi menjaga kegelapan dalam bangunan. Antara ciri-ciri lain rumah walit yang perlu diambil kira dalam pembinaannya ialah ;-
Sistem ventilasi bagi mengawal suhu
Bahagian dalam terlindung dari cahaya matahari
Ketinggian ideal melebihi 15 kaki dengan keluasan melebihi 20 kaki persegi
Penyediaan beluti untuk burung bersarang
Kalis tikus, ular, biawak dan pemangsa.
Pemasangan sistem audio
Notis amaran di lokasi sesuai.
Keluasan minima 20 X 30 kaki. Lebih ekonomik jika dibina bertingkat. Ketinggian dari lantai ke bumbung antara 6 hingga 15 kaki. Bahagian dalam bangunan diplaster dengan campuran pasir, kapur dan simen. Bahagian luar dengan campuran pasir dan simen sahaja.
Tempat burung layang-layang berehat dan membuat sarang dibuat petak-petak daripada papan yang kuat serta dilekatkan di bahagian siling bangunan.
Sistem paip jaringan (sprinkle) diletakan pada bahagian bumbung dan dalam bangunan. Bila cuaca panas paip dipasang bagi menjamin suhu sentiasa rendah dan kelembapan tinggi.
Pintu keluar masuk burung berukuran 20 X 20 cm dibina dibahagian atas bangunan.
Pemasangan Sistem Audio
Sistem audio dipasang bagi dimainkan suara burung pada waktu tertentu bertujuan bagi memanggil burung masuk kedalam bangunan , membuat sarang dan seterusnya meningkatkan pengeluaran. CD dengan suara burung yang berlainan digunakan untuk memanggil burung , membuat sarang dan meningkatkan pengeluaran.
Pada pintu masuk dipasang minima 2 buah tweeter dan dimainkan pada awal pagi dan petang bertujuan memandu burung masuk kedalam bangunan. Bagi bangunan berukuran 20 X 30 kaki, minima 10 buah tweeter dipasang pada bahagian siling bangunan secara tersebar bertujuan untuk mengundang burung bersarang dalam bangunan.
Jika audio sistem dipasang secara yang betul mengikut nasihat perunding, kemungkinan burung akan masuk kedalam rumah walit dalam jangka masa dua hingga tiga bulan adalah tinggi. Audio sistem sebenarnya berfungsi untuk menarik perhatian walit menuju kearah sumber suara.
May 31st, 2006
trubus-online.com
Oleh trubus
Keheningan di salah satu sudut kota Nha Trang, Vietnam, pagi itu sontak pecah saat 2 kipas pendorong speedboat dihidupkan. Selama 5—10 menit mesin itu meraung kencang di dak pelabuhan. Setelah mesin panas, pengemudi perahu menyuruh Hary K Nugroho, Vo Thai Lam, dan 2 pengusaha walet setempat segera menaiki perahu. “Hari ini kita ke Pulau Salangane,” ujar Vo Thai Lam. Selama ini dari pulau itu produksi sarang walet di Vietnam berasal.
Perlahan-lahan badan perahu itu melepaskan diri dari pelabuhan. Raungan 2 mesin pendorong semakin kencang seiring laju perahu yang makin cepat. Semenit kemudian, speedboat berkapasitas 20—30 penumpang itu melaju membelah ombak menuju Hon Yen atau Dao Yen (sebutan orang Vietnam untuk Pulau Salangane, red). “Di Bandara Nha Trang ada brosur tentang Pulau Salangane sebagai penghasil sarang walet terbesar di Vietnam. Saya penasaran untuk ke sana,” ujar Hary.
Dalam perjalanan, Mr Lam—begitu Vo Thai Lam disapa—bercerita tentang pulau yang berjarak 17 km dari kota Nha Trang itu. Ternyata pulau raksasa itu dikelola perusahaan Sanest bekerjasama dengan pemerintah Vietnam. Sanest merupakan produsen pengolah minuman segar dari sarang walet. “Sanest memegang hak penuh atas pulau itu,” ujar Mr Lam, director manager Sanest. Karena setiap jengkal tanah di Vietnam milik negara, untuk mengelola pulau harus mendapatkan izin dan kontrak dari pemerintah.
Pulau Salangane
Selama 3—4 jam berlayar membelah Laut Cina Selatan, Pulau Salangane pun tampak. Dari kejauhan pulau raksasa itu terlihat kokoh berdiri. Yang menarik, pulau itu tidak ditumbuhi pepohonan seperti pulau-pulau di Indonesia. Yang tampak hanya bukit karang dan batu-batu terjal saling menumpuk. “Tinggi bukit karang itu mencapai 5—10 m dari permukaan laut,” kata Hary.
Kebenaran Pulau Salangane sebagai surga walet gua pun terungkap. Saat moncong perahu merapat di tepi pantai, gerombolan walet telah menyambut kedatangan Hary bersama rombongan. Menurut kelahiran Semarang 3 Juni 1970 itu terdapat beberapa gua di pulau itu. Setiap gua dihuni ribuan walet. “Kondisi walet di Vietnam mirip di Sumatera. Hanya walet yang bersarang. Populasi seriti tidak ditemukan,” katanya.
Untuk menuju ke gua, rombongan harus berjalan kaki menaiki tangga semen yang sengaja dibangun. Ratusan anak tangga itu diapit dinding batu di sisi kiri dan kanan setinggi 4—5 m. Sekilas seperti berjalan di lorong tanpa atap. Lebar tangga hanya selebar badan. Setelah 10 menit berjalan tampak mulut gua selebar 70—90 cm.
Begitu masuk ke dalam gua sejauh 3—4 m, pemandangan luar biasa langsung terlihat. Di antara keremangan cahaya, tampak ratusan sarang walet menempel di kiri-kanan dinding gua. Sarang berwarna putih bercahaya pertanda bersih dan berkualitas. Sarang itu berbentuk mangkuk dan berdiameter 5—8 cm. “Luar biasa. Sarang walet gua ini bermutu tinggi,” kata pemilik perusahaan Eka Walet di Kelapagading, Jakarta Utara, itu. Itu lantaran lingkungan gua bersih, bebas polusi udara, dan pencemaran lain.
Menurut alumnus Oral Roberts University jurusan Bisnis dan Marketing di Amerika Serikat itu, Vietnam termasuk beruntung mempunyai sarang walet gua yang berkualitas. Sebab, saat ini konsumen di mancanegara meminta sarang walet alami tanpa proses pencucian. Sarang asal gua, “Lebih dipercaya, higienis, dan bersih,” ucap Hary. Tak heran bila setiap tahun 1 ton yen sao (sarang walet dalam bahasa Vietnam, red) dari Pulau Salangane mengisi pasar lokal dan ekspor seperti Taiwan, Hongkong, dan Amerika Serikat. Sentra walet di Vietnam tak hanya di Pulau Salangane. Pulau Hon Tre yang berjarak 25 km dari Nha Trang juga terkenal penghasil sarang liur emas. Dari gua-gua di pulau itu walet-walet beterbangan ke areal pertanian di dekat pusat kota.
Dari gua ke rumah
Sejak 10—15 tahun silam atau ketika pembangunan gencar dilakukan pascaperang Vietnam 1950—1975, walet mulai bermigrasi dari Pulau Salangane, Pulau Hon Tre, dan pulau-pulau lain ke pemukiman. Bangunan tua di pesisir pantai hingga kota-kota besar banyak yang ditempati walet. “Kebanyakan walet bermigrasi dari Vietnam tengah ke Vietnam selatan,” kata Hary. Menurut pengamatan ayah 3 putra itu walet tidak bermigrasi ke bagian utara Vietnam lantaran suhu di sana terlalu rendah, di bawah 20oC.
Selama seminggu di Vietnam, Hary mengamati swift let—nama lain walet—banyak “bermain-main” di kota-kota besar seperti Hoi An, Tam Ky, Quang Ngai, Quy Nhon, Tuy Hoa, Nha Trang, dan Phan Rang. Di kota-kota itu pakan melimpah. Sumbernya, berasal dari pasar tradisional, sungai, dan pabrik-pabrik kayu.
Sayang suara cericit ribuan walet kala sore hari tak mampu menarik perhatian penduduk. Warga tidak peduli saat walet berseliweran di atas gedung-gedung tua, pabrik, dan pasar tradisional. Bioskop tua bernama Th anh Binh di kota Phan Rang misalnya. Setiap sore menjelang malam gedung teater itu tak hanya dipadati penonton, tetapi juga walet.
Menurut pengamatan Hary sedikitnya 1.000—1.500 walet bersarang di bawah bangku penonton setiap malam. “Walet itu sepertinya sudah lama bersarang di sana,” ujarnya. Penduduk di sana tidak berusaha memancing masuk ke rumah karena tidak mengetahui cara-caranya.
Gagap teknologi
Minimnya pengetahuan tentang teknologi dan budidaya walet mengakibatkan Collocalia fuciphaga tidak berkembang di negara komunis itu. Padahal, bila digarap serius bukan tidak mungkin Vietnam menjadi salah satu pemasok besar sarang walet di luar Indonesia, Malaysia, dan Thailand. “Di sana orang tidak percaya walet dapat dikembangkan di rumah. Mereka hanya tahu walet hanya bisa diternak di gua,” tuturnya. Jumlah rumah walet dapat dihitung dengan jari. Itu pun dikelola sangat konvensional tidak seperti di Indonesia.
Meski demikian, perusahaan minuman segar berbahan sarang walet justru banyak ditemui. Sebut saja Bach Khang, Nguyen Paht, Sanest, Hai Nam, dan Tien Nghiep yang produknya mengisi pasar swalayan dan pasar lokal di Vietnam. Untuk memproduksi minuman berbahan liur walet itu, perusahaan-perusahaan yang mayoritas berlokasi di Ho Chi Minh City itu mengandalkan produksi sarang walet dari gua.
Perkembangan bisnis walet di Vietnam memang terbelakang. Itu lantaran beragam kendala yang seakan memasung, seperti birokrasi pemerintah, teknologi, dan kepercayaan masyarakat setempat. “Meyakinkan penduduk bahwa walet bisa diternakkan di rumah sangat sulit,” ujar Hary. Namun, bila masyarakat sudah percaya dan bisa menggunakan teknologi perwaletan, tidak mustahil negara bekas jajahan Perancis itu bakal menjadi pemasok liur emas besar dari gua dan rumah. (Rahmansyah Dermawan/Peliput: Hary K Nugroho)
May 31st, 2006
Oleh trubus
trubus-online.com
Harga sarang walet terus menurun. Dua tahun lalu harga sekilo mencapai Rp16-juta; kini Rp12-juta/kg.
Harga sarang walet terus menurun. Dua tahun lalu harga sekilo mencapai Rp16-juta; kini Rp12-juta/kg. Penyusutan nilai itu tidak lepas dari produksi melimpah dari negara produsen. Bagi pemain baru kenyataan ini seperti mimpi buruk. Sebaliknya gejolak harga itu tidak sampai membuat pemain lama harus menyetop bisnis liur emas itu karena merugi. Maklum overhead cost memelihara walet tetap sangat rendah.
Seleksi alam kini sedang terjadi di antara peternak. Mereka yang gulung tikar umumnya tidak bisa menyikapi kondisi. Produksi sarang sedikit, tapi biaya-biaya lain seperti keamanan dan bahan-bahan bangunan melonjak tinggi. Sementara itu harga jual sarang terus menurun. Apalagi sarang bermutu rendah, untuk menjualnya saja sulit. Kondisi itu diperkirakan akan bertahan. Wajar bila nantinya akan lebih banyak peternak yang berhenti.
Harga sarang memang menjadi kunci langgeng tidaknya bisnis liur Collocalia fuciphaga itu. Beberapa faktor pemicu harga rendah antara lain secara global produksi sarang kini meningkat. Kondisi itu tidak hanya terjadi di tanahair, tapi juga menimpa negara penghasil seperti Malaysia dan Thailand. Jika dibandingkan dengan 10 tahun lalu, produksi sarang walet kini mencapai 3 kali lipat. Diduga jumlah itu terus meningkat dengan pasar terbesar: Cina.
Isu negatif
Parahnya, kini merebak isu negatif seputar kualitas sarang. Bobot sarang ditambah dengan memakai formalin. Agar sarang lebih putih diberi H202. Di Cina sempat tersiar kabar beberapa orang yang mengkonsumsi sarang walet, sakit dan meninggal. Mungkin saja sebetulnya bukan sarang penyebabnya. Namun, karena diberitakan secara besar-besaran di media massa setempat, citra sarang walet sebagai makanan menyehatkan perlahan-lahan luntur.
Hal itu diperburuk lagi oleh ulah segelintir pedagang yang ingin mengeruk untung sebesar-besarnya. Mereka menambahkan bahan-bahan kimia berbahaya yang justru akan semakin memperkuat pendapat sarang walet sudah tidak berkhasiat lagi.
Pengaruh isu flu burung yang menimpa negara penghasil sarang turut memberi andil psikologis bagi konsumen. Mereka umumnya enggan untuk sementara waktu menyantap sarang walet.
Faktor lain seperti lonjakan harga minyak dunia dan konflik politik dan ekonomi terutama yang melibatkan Cina—sebagai penyerap sarang terbesar—ikut berperan terhadap menurunnya harga sarang. Dalam kacamata negara produsen, diharapkan kondisi itu dapat berubah, sehingga penurunan harga tidak terlalu drastis.
Perluas pasar
Untuk menjaga bisnis walet, sambil berharap harga kembali tinggi berbagai langkah perlu dilakukan. Penguasaan teknologi budidaya terus diperdalam sehingga kualitas sarang lebih bagus. Misalnya bentuk utuh menyerupai mangkuk, warna sarang cerah, dan bersih dari kotoran binatang seperti kepinding.
Yang tidak kalah penting, saling menjaga kepentingan peternak, pedagang, dan pemakai sehingga tujuan akhir melanggengkan bisnis walet dapat diwujudkan. Promosi bahwa sarang walet menyehatkan perlu diperluas cakupannya.
Pun memupuk gengsi ketika penyelenggaraan pesta menyajikan menu sarang walet. Demikian pula bagi hotel dan restoran yang menyediakan aneka menu liur emas, harus dipandang sebagai tempat eksklusif. Tren itu sangat terlihat di Guangzhou dan Shenchan di Cina. Pasar sarang sebagai bahan baku kosmetik dan kesehatan sudah dilirik. Beberapa pabrik kini memanfaatkan material sarang sebagai dasar produk kecantikan. Ia dipakai sebagai krim kulit, dibuat kapsul untuk penyegar badan hingga kapsul awet muda. Pemanfaatan itu memang perlu terus didorong hingga nantinya dunia farmasi dan kesehatan menjadi salah satu penyerap sarang terbesar.
Isu walet terserang fl u burung terbukti tidak benar. Orang tidak perlu resah menyantap sarang walet. Meski kandungan nutrisi sarang walet yang berpengaruh untuk kesehatan belum semua diketahui. Beberapa penelitian menyebutkan mengkonsumsi sarang walet meningkatkan daya tahan tubuh. Penelitian itu mempertegas manfaat sarang walet yang sudah dipakai selama ratusan tahun. Namun, untuk lebih banyak mengungkap misteri khasiat sarang walet, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.
Di dalam negeri, perlu dibentuk organisasi yang menghimpun peternak dan pedagang. Tujuan utamanya selain mempromosikan kegunaan sarang walet lebih luas, juga menetralkan isu-isu negatif yang berkembang. Organisasi pun berhak menegur bahkan memberi sanksi kepada anggota yang nakal. Dengan demikian bisnis walet akan berjalan lurus. (Dr Boedi Mranata, pakar dan eksportir walet)
May 31st, 2006
Herman Taslim
Oleh: Rhenald Kasali
jkt1.detik.com
Sarang burung walet adalah bisnis yang unik, dan harganya mahal sekali. Herman Taslim yang pernah menjadi tamu Bedah Bisnis di TPI tanggal 24 September 2002 bisa menceritakannya dengan lancar tentang seluk-beluk bisnis ini. Karena pemahamannya yang baik tentang produk dan bisnis ini, Herman sampai menulis buku tentang bisnis sarang burung walet.
Ia memang bisa disebut jagoan dalam bisnis sarang walet. Ia memulainya sejak usia muda, bahkan sampai dilarang oleh orangtuanya untuk memelihara burung walet. Akhirnya, ia memilih untuk berdagang saja.
Untuk berdagang, rasanya Herman telah mendatangi seluruh pelosok untuk mencari sarang walet. Bekerja sama dengan pemilik rumah atau bangunan yang memiliki sarang burung walet, atau dengan penduduk yang tinggal dekat goa yang memiliki sarang burung walet.
Ia mengumpulkannya, lalu dikemas, dan diekspor. Tujuan pilihannya adalah Amerika, menjual kepada komunitas Amerika keturunan Cina. Memang masyarakat Cinalah yang banyak mengonsumsi sarang burung walet.
Mengapa mereka membeli dan mengonsumsi sarang burung walet? Menurut Herman, daya tariknya adalah kepercayaan yang dimiliki oleh etnis ini tentang khasiat sarang burung walet. Terutama kemampuannya untuk membuat orang awet muda, bisa menyembuhkan berbagai penyakit, dan lainnya.
Semua khasiat itu, ini menurut Herman, belum terbukti secara ilmiah, alias mitos. Tapi, dalam berdagang, konsumen tidak membeli keilmiahannya. Konsumen lebih menekankan ekspektasinya terhadap produk tersebut, dan dia merasakan atau mendapatkan apa yang ia perkirakan sebelumnya. Kadang-kadang urusan ilmiah hanya menjadi pendukung.
Ini yang terjadi pada produk tradisional seperti jamu. Sebelum ilmu pengetahuan memberikan perhatian yang lebih besar kepada industri jamu, ramuan tradisonal ini tetap laku dan dikonsumsi oleh orang banyak.
Bukan karena jamu sudah terbukti secara ilmiah bahwa jamu bisa menyembuhkan penyakit, tetapi lebih karena konsumen mempercayai bahwa jamu tersebut bisa menyembuhkan berdasarkan pengala- man mereka sendiri atau pengalaman orangtua mereka.
Dicari
Pelajaran apa yang bisa dipetik dari sarang burung walet?
Satu hal yang pasti adalah bahwa sarang burung walet dibutuhkan/dicari oleh konsumen terutama dari etnis Cina di seluruh dunia. Karena itu, pasarnya yang paling besar adalah RRC atau negara lain yang memiliki komunitas Cina yang besar.
Orang seperti Herman adalah orang yang sangat piawai dalam bisnis ini. Apakah orang lain mempunyai peluang yang sama untuk maju jika berbisnis sarang burung walet?
Inilah yang ingin saya tekankan di sini. Herman, dan pengusaha burung walet lainnya sudah berpengalaman dalam menangani bisnis ini, sejak lama. Biasanya, jika ada orang yang ingin berbisnis sarang burung walet seperti Herman, mereka melihat kondisi sekarang saja. Tetapi, tidak mempelajari bagaimana proses Herman menjadi seperti sekarang.
Artinya, kalau memang ingin terjun ke bisnis sarang burung walet, mulailah dari kecil. Artinya, pelajari semua tahap sampai akhirnya bisa mengekspor. Sebab, seperti diceritakan Herman sendiri, ia pernah membeli sarang burung walet yang di dalamnya diberi paku sebagai pemberat timbangan.
Yang ingin saya katakan, jangan ikut-ikutan bisnis sarang burung walet sehingga bisnis ini menjadi bisnis kerumunan. Bisnis kerumunan adalah bisnis yang banyak sekali pemainnya karena melihat orang lain telah sukses lebih dulu menjalankannya. Contoh bisnis kerumunan saat ini adalah bisnis wartel, atau kafe tenda.
Pelajaran lain yang bisa dipetik adalah bahwa Herman memilih produk langka, yang suplainya terbatas. Karena itu, harganya demikian tinggi.
Coba bayangkan jika mendapatkan sarang burung walet semuah sabuk kelapa, tentu saja harga per kilogramnya akan jauh lebih murah.
Di Indonesia, saya kira, bukan hanya sarang burung walet yang sukar dicari. Banyak produk lain dari alam yang juga mempunyai nilai ekonomi tinggi karena kualitasnya baik sekali dan hanya terdapat di beberapa tempat.
Misalnya, kayu hitam di Maluku. Jika kayu ini diolah menjadi produk jadi dengan ukiran yang bagus, harganya akan naik berkali-kali lipat. Potensi seperi ini tampaknya belum banyak dimanfaatkan oleh pebisnis di Indonesia.
Beberapa produk kerajinan juga begitu. Masih banyak yang belum mendapat sentuhan tangan marketer yang ahli, sehingga mampu menembus pasar ekspor.*
May 30th, 2006
suarakarya-online.com/news
BATAM (Suara Karya): Komisi III DPRD Kota Batam meminta Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) serta Asosiasi Pengusaha Penangkaran Burung Walet (APPBW) setempat mengontrol dan menertibkan rumah-rumah walet agar tidak menyebarkan penyakit dan mengakibatkan kebisingan. “Usaha penangkaran rumah walet kian marak di tengah-tengah kota. Di Marina Park saja hampir seluruh perumahan beralih fungsi dan di kawasan bisnis Nagoya-Jodoh banyak pula yang dijadikan rumah walet,” kata anggota Komisi III DPRD Batam, Irwansyah, seperti dikutip Antara di Batam kemarin.
Selain meminta pengawasan terhadao pembangunan rumah burung walet, anggota DPRD itu juga meminta Kimpraswil dan APPBW yang beranggotakan 175 pengusaha untuk mengontrol rumah walet yang belum memiliki izin. “Kimpraswil harus dapat menindak pengalihfungsian rumah toko menjadi rumah-rumah walet sebelum memiliki izin,” katanya. “Jika dibiarkan begitu saja, dampaknya akan meluas dan berujung pada sikap apatis masyarakat terhadap petugas terkait dan itu tidak boleh terjadi,” kata Irwansyah.
Dia juga mengatakan, harus ada pengkajian menyangkut aspek ekonomi, hukum, dan sosial guna tercapainya tujuan penerbitan peraturan daerah (perda) untuk mengakomodasi berbagai kepentingan. Soalnya, budidaya burung walet memiliki prospeks, tetapi jangan meninggalkan aspek keindahan dan ketertiban warga kota.
Ia mengatakan, selain banyaknya rumah walet yang tidak memiliki izin, masyarakat juga menilai usaha walet ini menimbulkan kebisingan, terutama akibat suara pemancing burung walet, di daerah-daerah pemukiman penduduk. Masalah ini bahkan telah diadukan ke DPRD setempat. “Pemilik penangkaran burung welet juga harus memperhatikan lingkungan sekitar, baik dari kebisingan maupun kebersihan yang sewaktu-waktu dapat menyebarkan berbagai penyakit. Selama ini ada kecenderungan pemilik penangkaran burung walet tidak peduli terhadap keluhan masyarakat sekitar,” katanya. Diakuinya, belum ada acuan khusus mengenai kebisingan yang mengganggu masyarakat sekitar.
Kepala Dinas Kimpraswil Harry Rukamto menyatakan, pihaknya telah beberapa kali melayangkan surat teguran kepada pemilik penangkaran walet karena telah melanggar IMB dan RTRW, tetapi surat teguran tersebut tidak pernah digubris. “Ke depan, Dinas Kimpraswil telah menyiapkan beberapa klausul menyangkut urusan perizinan pembangunan,” katanya. (Muhammad Nasir)
BATAM (Suara Karya): Komisi III DPRD Kota Batam meminta Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) serta Asosiasi Pengusaha Penangkaran Burung Walet (APPBW) setempat mengontrol dan menertibkan rumah-rumah walet agar tidak menyebarkan penyakit dan mengakibatkan kebisingan. “Usaha penangkaran rumah walet kian marak di tengah-tengah kota. Di Marina Park saja hampir seluruh perumahan beralih fungsi dan di kawasan bisnis Nagoya-Jodoh banyak pula yang dijadikan rumah walet,” kata anggota Komisi III DPRD Batam, Irwansyah, seperti dikutip Antara di Batam kemarin.
Selain meminta pengawasan terhadao pembangunan rumah burung walet, anggota DPRD itu juga meminta Kimpraswil dan APPBW yang beranggotakan 175 pengusaha untuk mengontrol rumah walet yang belum memiliki izin. “Kimpraswil harus dapat menindak pengalihfungsian rumah toko menjadi rumah-rumah walet sebelum memiliki izin,” katanya. “Jika dibiarkan begitu saja, dampaknya akan meluas dan berujung pada sikap apatis masyarakat terhadap petugas terkait dan itu tidak boleh terjadi,” kata Irwansyah.
Dia juga mengatakan, harus ada pengkajian menyangkut aspek ekonomi, hukum, dan sosial guna tercapainya tujuan penerbitan peraturan daerah (perda) untuk mengakomodasi berbagai kepentingan. Soalnya, budidaya burung walet memiliki prospeks, tetapi jangan meninggalkan aspek keindahan dan ketertiban warga kota.
Ia mengatakan, selain banyaknya rumah walet yang tidak memiliki izin, masyarakat juga menilai usaha walet ini menimbulkan kebisingan, terutama akibat suara pemancing burung walet, di daerah-daerah pemukiman penduduk. Masalah ini bahkan telah diadukan ke DPRD setempat. “Pemilik penangkaran burung welet juga harus memperhatikan lingkungan sekitar, baik dari kebisingan maupun kebersihan yang sewaktu-waktu dapat menyebarkan berbagai penyakit. Selama ini ada kecenderungan pemilik penangkaran burung walet tidak peduli terhadap keluhan masyarakat sekitar,” katanya. Diakuinya, belum ada acuan khusus mengenai kebisingan yang mengganggu masyarakat sekitar.
Kepala Dinas Kimpraswil Harry Rukamto menyatakan, pihaknya telah beberapa kali melayangkan surat teguran kepada pemilik penangkaran walet karena telah melanggar IMB dan RTRW, tetapi surat teguran tersebut tidak pernah digubris. “Ke depan, Dinas Kimpraswil telah menyiapkan beberapa klausul menyangkut urusan perizinan pembangunan,” katanya. (Muhammad Nasir)
May 30th, 2006
Found in the caves of many parts of Southeast Asia, bird’s nests have become an important health food
become an important health food
jphpk.gov.my
By Nabilla
The royal family of the 16th century Ming Dynasty in China, it seems, has long known about the beneficial effects of bird’s nest.
It was only in this century, however, that the bird’s nest really came into its own for its skin healing and beautifying properties.
According to zoologist and curator of Natural History for Sarawak Museum Dr Charles Leh, studies by universities in Southeast Asia, Japan and Hongkong have shown that the product (which comes from the saliva of a type of swiftlet), contains up to 20 types ofglyco-proteins. This substance is easily digested and assimilated.
Leh adds that studies are being done in other parts of the world to identify the types of protein. “This will be very useful for downstream research and development of better products from bird’s nest. Very rarely do animal products have water-soluble protein”, says Leh, who is also the advisor for Eu Yan Sang (EYS) Chinese Traditional Medicine bird’s nest products.
Other studies have also shown that bird’s nest contains an epidermal growth factor that helps in blood function as well as cell regeneration.
Eu Yan Sang development manager Lee Jok Keng says these qualities in bird’s nest make them an excellent source of protein and energy for patients recuperating from operations and injuries.
“Bird’s nests are very digestible with a very low ash and residue content. It can also help surgical patients’ tissue repair faster”.
The swiftlets’ saliva glands are most productive during the breeding season from August to January. Leh says during the breeding period, the bird flies a 1 to 10km radius searching for food.
The Aerodramus Maximus or black-nest swiftlet, which produces most of the edible bird’s nest, is also the only swiftlet that can navigate through echo-location. This enables it to feed into dusk where there are more insects.
It then goes back to the caves to build its nest with one strand of saliva every evening.
It takes 35 to 40 days for a pair of swiftlets to complete a nest. Upon completion, the female swiftlet takes seven to 10 days to lay its eggs which hatches in three weeks. The swiftlets take 50 days to fledge.
Leh says many areas from Thailand to Borneo produce edible birds nest. Borneo, with its ancient limestone caves, is the centre of production for high-quality nests that are rich in iron and calcium.
This is because the nests absorb nutrients that leach from the cave walls. The minerals also give the nests the reddish hues.
Leh says that the Sarawak Forestry, Wildlife and Park Department regulates the collection of birds nest. “The swiftlets never nest in the same nest as it will rot and fall off the wall several months later”.
Only nests that are used by the swiftlets are collected as doing otherwise will threaten its existence. “Under our conservation programme, if the nests are not harvested after the birds have used them, they will have less spave to breed”, Leh says.
In Sabah, the edible black nest harvest is 10 tonnes a year. Most of it is sent to Hongkong for consumption and re-export.
EYS for its part is the producer of superior bottled birds nest products called Fa Yien that uses nest strands for the first time. These products contain no preservatives and additives.
EYS is also the only company that produces processed and cleaned whole nests. The company is also doing its part by carrying out research on house breeding and farming of other swift species that build nests with saliva.
May 29th, 2006
mediaindo.co.id
Judul Pengobatan Alternatif:
SARANG burung walet sudah lama dikenal manfaatnya. Selain digunakan sebagai bahan pangan, sarang burung walet juga dipakai membuat ramuan obat. Di tempat praktik pengobatan alternatif farmakognosi, misalnya, Al Raziq, si pengobat meracik ramuan herbalnya dengan sarang burung walet.
Ramuannya itulah yang diberikan kepada setiap tamu yang datang berobat. ‘’Namun selain minum ramuan, klien saya terlebih dulu dipijat,'’ kata Raziq yang siang itu sedang memijat Kirman, 48, di tempat praktiknya di Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Kampung Makasar, Jakarta Timur.
Kirman, menurut Raziq, datang berobat untuk menyembuhkan ejakulasi dini yang dideritanya. Sudah sebulan ini Kirman diterapi Raziq. Usai dipijat ia selalu minum ramuan sarang burung walet. ‘’Aktivitas seksual saya lumayan baik. Ejakulasi dini yang saya alami berangsur membaik,'’ kata Kirman yang masih rutin ikut terapi Raziq.
Raziq mengatakan pengobatan yang dilakukannya sangat alamiah. Bahan-bahan yang dipakai untuk membuat ramuannya murni dari rempah-rempah dan sarang burung walet. ‘’Tidak ada bahan kimia sedikit pun,'’ katanya. Mengutip pendapat Prof Huang Zhou Guang dari China, Raziq mengatakan sarang walet itu terbuat dari saliva (liur) burung walet. Di dalamnya juga terkandung rumput, ranting-ranting kecil, dan kadang sedikit lumpur.
Sarang dari burung yang disebut swiflet atau Hai Yu, jelas Raziq, mengandung hormon yang dapat merangsang sel. ‘’Itulah sebabnya sarang walet dipercaya mampu merangsang pertumbuhan sel dan meningkatkan kekebalan tubuh manusia. Karena bisa meningkatkan kekebalan tubuh, maka berbagai penyakit pun bisa diatasi dengan sarang walet. Misalnya, penyakit asma, kanker payudara, hingga penyakit yang menyangkut kemampuan hubungan seksual.
‘’Namun Raziq mengatakan, untuk memberi ramuan berbentuk bubuk kepada pasiennya, tidaklah sama. Ramuan diberikan tergantung pada penyakit dan usia dari pasiennya. ‘’Selain sarang walet, sebetulnya saya juga menggunakan ramuan kumis kucing,'’ katanya.
Lebih lanjut, Raziq mengatakan ia memiliki dua tempat praktik. Di dua tempat praktiknya itu ia selalu memberi ramuan kepada tamu yang datang berobat. ‘’Ada ramuan dari Aceh, China, dan India,'’ kata pria asal Aceh ini. Namun, lanjutnya, untuk melakukan pengobatan dia mengaku memijat.
Ketika ditanya bagaimana ia meracik ramuan itu, Raziq tetap merahasiakannya. Bahkan kepada pasiennya pun ia cuma mengatakan ramuan berasal dari tanaman. ‘’Ini rahasia. Karena membuat ramuan itu tidak mudah,'’ katanya.
Tetapi terlepas dari keahliannya membuat ramuan, Raziq yakin dirinya hanyalah perantara Tuhan ketika melakukan pengobatan. “Yang menyembuhkan penyakit si pasien adalah Allah subhanahu wa taala. Karena itu, sebelum melakukan pengobatan saya selalu memanjatkan doa agar pasien saya diberi kesembuhan dan dihilangkan penyakitnya,'’ katanya.
Usai mengobati Kirman, tidak lama kemudian Raziq kedatangan tamu lagi, yaitu Budi, 40, asal Jatiwangi. Dia mengeluh tidak bisa bekerja sebagaimana biasanya. Penyebabnya penyakit rematiknya kerap kambuh. Di kaki dan jarinya muncul bengkak-bengkak.
Kepada Raziq, Budi mengaku sangat terganggu dengan rematiknya itu. Karena ketika penyakitnya kambuh rasa sakit menjalar di tubuhnya.
‘’Saya tahu tempat ini dari famili saya,'’ katanya kepada Media.
Berbeda dengan Kirman, Raziq ternyata tidak memberikan pijat kepada Budi. ‘’Kalau untuk penyakit rematik kami tidak boleh melakukan pemijatan,'’ katanya.
Setelah diperiksa, Raziq memberi ramuan kepada Budi untuk 25 hari. Seperti biasanya, setiap ramuan yang diberikan pasti ada ramuan dari sarang walet selain ramuan herbal lainnya. Tidaklah heran, di ruang praktik Raziq bertumpuk stoples berisi bubuk ramuan. (Drd/H-1).
May 26th, 2006
map-bms.wikipedia.org
Upacara adat kiye dianakna nang Desa Karang Bolong, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen]], pas Mangsa Kesanga nang Penanggalan Saka utawa kalender Jawa. Kuwe ialah wektu sing paling cocok nggo panen sarang burung walet.
Miturut kepercayaan, sing nduweni sarang burung walet nang desa Karang Bolong kuwe ialah Nyi Roro Kidul, penguasa laut kidul. Mulane ben ora kenang musibah, pemanen sarang walet kudhu nglakoni rangkaian ritual adat sing intine sebagai upacara keselamatan. Upacara adat kiye dipimpin Pak Mandor.
Sesajen nggo Ratu Kidul disiapna antarane: kain lurik hijau gadung, udang wulung, selendang, kasur, karo bantal putih ditambah penganan sesaji sing dipercaya disenengi Nyi Roro Kidul.
Nang bibir Gua Contoh nang Pantai Karang Bolong, disiapna juga pagelaran wayang kulit, kabeh Perangkat Gamelan disiapna juga Penayagan.
Bar kabeh persiapan kuwe rampung Dalang molai maca Mantra sebagai pambuka pagelaran. Dheweke njaluk ijin maring Sang Bahureksa, penguasa laut lidul termasuk pengikute antarane Joko Suryo, Suryawati, Den Bagus Cemeti, Kiai Bekel, karo Kiai Surti, kanggo keselamatan acara panen sarang burung walet ngesuke.
Sejarah
Upacara adat kiye ialah amanah leluhur. Gemiyen, jere wong tua, Kiai Surti ialah utusan Kerajaan Mataram Kartasura, dheweke ditugasi nggolet tamba/obat kanggo permaisuri sing agi lara, ngantek akhire Kiai Surti tiba nang Pantai Karang Bolong kiye.
Kiai Surti lantes mertapa ngantek akhire olih wangsit sekang Dewi Suryawati, anak buahe Nyi Roro Kidul. Sang Dewi aweh pentunjuk nek obat sing digolet kuwe ialah sarang burung walet sing ana nang jero Goa Karang Bolong. Singkat crita, permaisuri akhire mari.
Bar peristiwa kuwe Kiai Surti akhirnya nikah karo Dewi Suryawati secara batin.
Nang pagelaran wayang kulit, ana aturane ialah tokoh nang wayang ora olih gugur nang medan perang, sebab nek nang pergelaran kuwe ana sing mati, diyakini bakal ana pemetik sarang walet sing kenang musibah.
Puncak upacara ditutup karo acara kenduren sing dibarengi karo Tayuban utawa pagelaran tari Tayub.
Ngesuke, acara metik sarang burung walet dipercaya bakal aman sebab wis olih restu sekang Nyi Roro Kidul, kaya kuwe….
May 24th, 2006
canoe.ca
By DENIS D. GRAY — The Associated Press
 PHANG-NGA BAY, Thailand (AP) — Take globs of bird saliva, a tasteless jelly of little nutritional value, plop it into a broth — and what do you get?
 Bird’s nest soup.
 For devotees, it’s a divine “caviar of the East,” a delicacy so extravagantly priced that some people kill and die over it. For critics, it’s a dish created through cruelty and endowed with spurious qualities like sexual enhancement by status-seeking Chinese.
 The popularity of soup made from the nests of swiftlets continues to soar, depleting bird populations and sparking “birds nest wars” between concession-holders and those like poachers and tourist operators who enter their areas.
 ”They are very nasty people. They’ve been shooting at people for centuries,” says John Gray, an American who ran afoul of the powerful collectors of Phang-nga Bay, where swiftlets make their nests in the caves of spectacular limestone islands.
 Calling it “extortion,” Gray’s kayaking venture initially refused to pay a $2.75-a-head fee demanding by the collectors, who claimed the canoeists were disturbing the nests and thus eating into their profits.
 Gray, whose Sea Canoe company has won several environmental awards, believes the collectors were behind death threats against him and the near fatal shooting of his operations manager in 1998. Recently, Gray had to give in or risk being blown out of the waters of Phang-nga Bay.
 This area of southern Thailand, along with similar environments in Vietnam, Indonesia and Malaysia, are home to swiftlets — sparrow-like birds that laboriously fashion cup-shaped nests for their offspring from glutinous saliva.
 Attached high on cave ceilings, the nests are gathered by workers who must climb rickety bamboo ladders. Injuries and death from falls are not uncommon.
Overharvesting occurs. Nests are snatched away even before eggs are laid, or baby birds are sometimes thrown away, acts that are heatedly criticized by animal welfare activists.
 From the caves of Southeast Asia, millions of nests are sent to Chinese communities around the world, with Hong Kong, mainland China and Taiwan the top consumers.
 Diners at places like Hong Kong’s Fook Lam Moon restaurant are willing to pay dearly for the highest quality nests — $58 US per bowl of soup.
 Some eat birds’ nests, which are usually mixed with chicken broth, spices or sweet sauces, to show off wealth and status. But many believe they rejuvenate skin, cure lung disease and increase sex drive.
 These claims are dubious at best. Chemical analysis has shown the soup is of low nutritive value. But like tiger penises, rhino horns and other exotic animal parts, the nests are regarded by many Chinese as medicinal and tonic. The demand for such products has devastated endangered wildlife around the globe.
 Alex Yau, at the Hong Kong office of the World Wide Fund for Nature, says the territory imported 985 tonnes of swiftlet nests valued at $700 million between 1992 and 1998.
 A sizable percentage of that was transshipped to China, where nests were first eaten some 1,000 years ago and where Yau says consumption is bound to increase with growing affluence.
 Experts say greater demand and higher prices has caused overharvesting and thus declines in swiftlet populations, and also encouraged nest farming and even trade in fake nests made from gum extract.
 Navjot Sodhi, a biologist at the National University of Singapore, says the number of swiftlets may have declined by as much as 73 per cent in some areas of Southeast Asia between 1962 and 1990 because of nest overharvesting and destruction of forests.
 A push by some western countries to protect swiftlets under the Convention on International Trade in Endangered Species has failed due mostly to opposition by Southeast Asian countries where so much money is at stake.
 Profits are so big that villagers in Indonesia, Thailand and elsewhere have lured swiftlets into abandoned houses. One such nest farm in southern Thailand features tape-recorded sounds of a waterfall to entice the birds.
Villagers also poach on nest concession areas, arguing that locals get no benefit from the business while concession-holders and governments that collect tax on the nest harvest grow rich.
 Clashes between licensed collectors and locals resulted in the deaths of 14 Thai villagers in the 1990s.
 In his futile fight against the nest collectors of Phang-nga Bay, Gray pointed out they were illegally demanding fees within a national park.
 But one Thai sea canoe operator, Thiti Mokapun, said he knew it was fruitless because of the collectors’ powerful political connections.
 ”We wanted to fight with John, too. We did not want to pay,” he said. “But we realized that in Thailand, often there are forces more powerful than the government.”
 Among them are the gatherers of bird saliva.
May 23rd, 2006
Previous Posts