Archive for May 31st, 2006

Mengendus Sarang Walet di Monitor

Sistem Informasi Geografis

SUDAH dua tahun ini panen sarang walet milik Habsiyah selalu jeblok. Kalau biasanya setiap kali panen ibu enam anak itu bisa memperoleh 5 kilogram sarang walet, kini paling banter cuma 2 kilogram. “Populasi walet sekarang sudah berkurang,” kata Habsiyah, 44 tahun, warga Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, itu.

Habsiyah tak habis pikir, mengapa rumah walet miliknya tak banyak dihuni burung layang-layang lagi. “Mungkin karena sekarang sudah banyak pabrik,” ujarnya. Polusi udara yang dihasilkan pabrik, menurut Habsiyah, menyebabkan suhu makin kering dan panas. Kondisi ini membuat burung walet menjauh, memilih bersarang di daerah bersuhu dingin dan lembap.

Situasi tak jauh beda juga terjadi di rumah walet Habsiyah lain di Kraksan, Probolinggo, Jawa Timur. Selama tiga tahun Habsiyah membuka rumah walet di situ, cuma menghasilkan 8 kilogram sarang walet. Itu pun harganya anjlok, cuma Rp 9 juta per kilogram dari seharusnya Rp 20 juta. Harga anjlok lantaran sarang walet diserang semut dan kecoa.

Hasil itu membuat Habsiyah buru-buru ingin menjual rumah waletnya. Ia ingin mencari lokasi baru untuk membangun rumah tempat walet bersarang. “Tapi di mana?” katanya. Kebingungan Habsiyah ini sepertinya akan terjawab berkat penemuan Ni Kadek Ariasih. Gadis berusia 26 tahun asal Bali ini berhasil merancang peranti lunak untuk menentukan lokasi sarang walet paling ideal.

Karya itu menjadi tugas akhir Kadek di Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Surabaya. Skripsi berjudul “Menentukan Lokasi Sarang Walet di Bali dengan Metode Fuzzi” ini membawa Kadek lulus dengan predikat cum laude. Ia mengantongi indeks prestasi komulatif (IPK) 3,52 dari paling tinggi 4,0.
Program Kadek mengolah sistem informasi geografis (GIS) untuk menentukan sarang walet memang menarik. Cukup bermodal komputer Pentium 3 dengan memori 128 sampai 256 megabyte, kita bisa mengetahui apakah sebuah titik di peta layak menjadi sarang walet. Misalnya, klik sebuah titik di atas peta Pulau Bali. Titik yang dipilih akan membesar, “Lalu klik sekali lagi untuk menampilkan informasinya,” kata Kadek. Maka, akan tampil seluruh informasi lokasi, berikut nilai kelayakannya sebagai daerah lokasi sarang walet.

Kenapa walet dipilih Kadek untuk mengekplorasi data GIS? Sarang walet merupakan komoditas menggiurkan di negeri ini. Produksi liur walet menempatkan Indonesia sebagai penyuplai 80% kebutuhan dunia. Diperkirakan, tiap tahun Indonesia menghasilkan 300 ton sarang walet. Harganya pun menawan. Sarang walet asal gua Rp 10 juta per kilogram. Sedangkan sarang dari rumah walet di perkotaan mencapai Rp 20 juta per kilogram. Mahalnya harga sarang walet kota lantaran bentuknya lebih bagus dan bersih ketimbang sarang walet alam.

Bali menjadi lokasi penelitian Kadek, lantaran daerah ini cocok untuk populasi walet. Banyaknya danau, sungai, pantai, dan hampir tak ada polusi membuat walet betah bersarang di Pulau Dewata itu.
 

Add comment May 31st, 2006

PERLADANGAN WALET


ewalet.onesite.com
Bermula sedekat yang lalu apabila burung walit berhijrah dari gua ke bandar menjadikan bangunan lama yang mempunyai suasana hampir sama dengan keadaan dalam gua sebagai habitat barunya Akibat mempunyai nilai pasaran yang tinggi banyak premis dalam kawasan bandar telah diubahsuai untuk perladangan walit.

Pengubahsuaian premis asasnya ialah menjadikan suasana dalamannya sama dengan gua. terutamanya gelap dan lembab. Antara ubahsuai utama dilakukan ia lah :-
Penutupan pintu dan tingkap
Pembinaan lubang pengudaraan
Penyediaan pintu masuk
Penyusunan bluti di siling sebagai tempat pembiakan
Sistem irigasi dalam dan luar bangunan bagi mengawal suhu
Memasang sistem audio

Suasana persekitaran yang diperlukan dalam rumah burung ialah suhu yang setabil antara 25 hingga 28 darjah celsius, kelembapan antara 80 hingga 90 peratus dan kegelapan kurang dari 1 lux. Bumbung bangunan hendaklah dibuat daripada bahan-bahan yang dapat menahan kepanasan matahari.Pembinaan persekitaran yang sesuai telah menyebabkan burung walit sesuai dengan habitat barunya dan memberi pulangan yang tinggi kepada pemiliknya.
Pembinaan Rumah Walit

Mengikut buku Amalan Baik Untuk Perladangan Burung Walit Aerodramus dan Perumahannya” terbitan Jabatan Perkhidmatan Haiwan, premis hendaklah dibina di atas tanah pertanian atau perusahaan pada jarak minima 100 meter dari kawasan kediaman. Disamping itu kelulusan daripada Pihakberkuasa Tempatan perlu diperolihi.

Reka bentuk bangunan perlulah berdasarkan kepada kehendak dan keperluan burung bagi menjamin burung walit akan menetap dan terus menetap. Rumah walit perlu disediakan roving room kerana semasa memasuki bangunan burung walit akam berputar-putar dulu mengikut putaran jam sebelum menuju ke sarangnya. Resting room perlu disediakan sebagai tempat burung walit beristerehat dan membina sarang. Lubang keluar masuk burung sesuai diletakan di bahagian atas bangunan dengan arah bertentangan daripada matahari naik atau jatuh bagi menjaga kegelapan dalam bangunan. Antara ciri-ciri lain rumah walit yang perlu diambil kira dalam pembinaannya ialah ;-
Sistem ventilasi bagi mengawal suhu
Bahagian dalam terlindung dari cahaya matahari
Ketinggian ideal melebihi 15 kaki dengan keluasan melebihi 20 kaki persegi
Penyediaan beluti untuk burung bersarang
Kalis tikus, ular, biawak dan pemangsa.
Pemasangan sistem audio
Notis amaran di lokasi sesuai.

Keluasan minima 20 X 30 kaki. Lebih ekonomik jika dibina bertingkat. Ketinggian dari lantai ke bumbung antara 6 hingga 15 kaki. Bahagian dalam bangunan diplaster dengan campuran pasir, kapur dan simen. Bahagian luar dengan campuran pasir dan simen sahaja.

Tempat burung layang-layang berehat dan membuat sarang dibuat petak-petak daripada papan yang kuat serta dilekatkan di bahagian siling bangunan.

Sistem paip jaringan (sprinkle) diletakan pada bahagian bumbung dan dalam bangunan. Bila cuaca panas paip dipasang bagi menjamin suhu sentiasa rendah dan kelembapan tinggi.

Pintu keluar masuk burung berukuran 20 X 20 cm dibina dibahagian atas bangunan.
Pemasangan Sistem Audio

Sistem audio dipasang bagi dimainkan suara burung pada waktu tertentu bertujuan bagi memanggil burung masuk kedalam bangunan , membuat sarang dan seterusnya meningkatkan pengeluaran. CD dengan suara burung yang berlainan digunakan untuk memanggil burung , membuat sarang dan meningkatkan pengeluaran.

Pada pintu masuk dipasang minima 2 buah tweeter dan dimainkan pada awal pagi dan petang bertujuan memandu burung masuk kedalam bangunan. Bagi bangunan berukuran 20 X 30 kaki, minima 10 buah tweeter dipasang pada bahagian siling bangunan secara tersebar bertujuan untuk mengundang burung bersarang dalam bangunan.
Jika audio sistem dipasang secara yang betul mengikut nasihat perunding, kemungkinan burung akan masuk kedalam rumah walit dalam jangka masa dua hingga tiga bulan adalah tinggi. Audio sistem sebenarnya berfungsi untuk menarik perhatian walit menuju kearah sumber suara.

Add comment May 31st, 2006

Emas Putih di Pulau Salangane Seri Walet (105)

trubus-online.com
Oleh trubus
Keheningan di salah satu sudut kota Nha Trang, Vietnam, pagi itu sontak pecah saat 2 kipas pendorong speedboat dihidupkan. Selama 5—10 menit mesin itu meraung kencang di dak pelabuhan. Setelah mesin panas, pengemudi perahu menyuruh Hary K Nugroho, Vo Thai Lam, dan 2 pengusaha walet setempat segera menaiki perahu. “Hari ini kita ke Pulau Salangane,” ujar Vo Thai Lam. Selama ini dari pulau itu produksi sarang walet di Vietnam berasal.
Perlahan-lahan badan perahu itu melepaskan diri dari pelabuhan. Raungan 2 mesin pendorong semakin kencang seiring laju perahu yang makin cepat. Semenit kemudian, speedboat berkapasitas 20—30 penumpang itu melaju membelah ombak menuju Hon Yen atau Dao Yen (sebutan orang Vietnam untuk Pulau Salangane, red). “Di Bandara Nha Trang ada brosur tentang Pulau Salangane sebagai penghasil sarang walet terbesar di Vietnam. Saya penasaran untuk ke sana,” ujar Hary.

Dalam perjalanan, Mr Lam—begitu Vo Thai Lam disapa—bercerita tentang pulau yang berjarak 17 km dari kota Nha Trang itu. Ternyata pulau raksasa itu dikelola perusahaan Sanest bekerjasama dengan pemerintah Vietnam. Sanest merupakan produsen pengolah minuman segar dari sarang walet. “Sanest memegang hak penuh atas pulau itu,” ujar Mr Lam, director manager Sanest. Karena setiap jengkal tanah di Vietnam milik negara, untuk mengelola pulau harus mendapatkan izin dan kontrak dari pemerintah.

Pulau Salangane
Selama 3—4 jam berlayar membelah Laut Cina Selatan, Pulau Salangane pun tampak. Dari kejauhan pulau raksasa itu terlihat kokoh berdiri. Yang menarik, pulau itu tidak ditumbuhi pepohonan seperti pulau-pulau di Indonesia. Yang tampak hanya bukit karang dan batu-batu terjal saling menumpuk. “Tinggi bukit karang itu mencapai 5—10 m dari permukaan laut,” kata Hary.

Kebenaran Pulau Salangane sebagai surga walet gua pun terungkap. Saat moncong perahu merapat di tepi pantai, gerombolan walet telah menyambut kedatangan Hary bersama rombongan. Menurut kelahiran Semarang 3 Juni 1970 itu terdapat beberapa gua di pulau itu. Setiap gua dihuni ribuan walet. “Kondisi walet di Vietnam mirip di Sumatera. Hanya walet yang bersarang. Populasi seriti tidak ditemukan,” katanya.

Untuk menuju ke gua, rombongan harus berjalan kaki menaiki tangga semen yang sengaja dibangun. Ratusan anak tangga itu diapit dinding batu di sisi kiri dan kanan setinggi 4—5 m. Sekilas seperti berjalan di lorong tanpa atap. Lebar tangga hanya selebar badan. Setelah 10 menit berjalan tampak mulut gua selebar 70—90 cm.

Begitu masuk ke dalam gua sejauh 3—4 m, pemandangan luar biasa langsung terlihat. Di antara keremangan cahaya, tampak ratusan sarang walet menempel di kiri-kanan dinding gua. Sarang berwarna putih bercahaya pertanda bersih dan berkualitas. Sarang itu berbentuk mangkuk dan berdiameter 5—8 cm. “Luar biasa. Sarang walet gua ini bermutu tinggi,” kata pemilik perusahaan Eka Walet di Kelapagading, Jakarta Utara, itu. Itu lantaran lingkungan gua bersih, bebas polusi udara, dan pencemaran lain.

Menurut alumnus Oral Roberts University jurusan Bisnis dan Marketing di Amerika Serikat itu, Vietnam termasuk beruntung mempunyai sarang walet gua yang berkualitas. Sebab, saat ini konsumen di mancanegara meminta sarang walet alami tanpa proses pencucian. Sarang asal gua, “Lebih dipercaya, higienis, dan bersih,” ucap Hary. Tak heran bila setiap tahun 1 ton yen sao (sarang walet dalam bahasa Vietnam, red) dari Pulau Salangane mengisi pasar lokal dan ekspor seperti Taiwan, Hongkong, dan Amerika Serikat. Sentra walet di Vietnam tak hanya di Pulau Salangane. Pulau Hon Tre yang berjarak 25 km dari Nha Trang juga terkenal penghasil sarang liur emas. Dari gua-gua di pulau itu walet-walet beterbangan ke areal pertanian di dekat pusat kota.

Dari gua ke rumah
Sejak 10—15 tahun silam atau ketika pembangunan gencar dilakukan pascaperang Vietnam 1950—1975, walet mulai bermigrasi dari Pulau Salangane, Pulau Hon Tre, dan pulau-pulau lain ke pemukiman. Bangunan tua di pesisir pantai hingga kota-kota besar banyak yang ditempati walet. “Kebanyakan walet bermigrasi dari Vietnam tengah ke Vietnam selatan,” kata Hary. Menurut pengamatan ayah 3 putra itu walet tidak bermigrasi ke bagian utara Vietnam lantaran suhu di sana terlalu rendah, di bawah 20oC.

Selama seminggu di Vietnam, Hary mengamati swift let—nama lain walet—banyak “bermain-main” di kota-kota besar seperti Hoi An, Tam Ky, Quang Ngai, Quy Nhon, Tuy Hoa, Nha Trang, dan Phan Rang. Di kota-kota itu pakan melimpah. Sumbernya, berasal dari pasar tradisional, sungai, dan pabrik-pabrik kayu.

Sayang suara cericit ribuan walet kala sore hari tak mampu menarik perhatian penduduk. Warga tidak peduli saat walet berseliweran di atas gedung-gedung tua, pabrik, dan pasar tradisional. Bioskop tua bernama Th anh Binh di kota Phan Rang misalnya. Setiap sore menjelang malam gedung teater itu tak hanya dipadati penonton, tetapi juga walet.

Menurut pengamatan Hary sedikitnya 1.000—1.500 walet bersarang di bawah bangku penonton setiap malam. “Walet itu sepertinya sudah lama bersarang di sana,” ujarnya. Penduduk di sana tidak berusaha memancing masuk ke rumah karena tidak mengetahui cara-caranya.

Gagap teknologi
Minimnya pengetahuan tentang teknologi dan budidaya walet mengakibatkan Collocalia fuciphaga tidak berkembang di negara komunis itu. Padahal, bila digarap serius bukan tidak mungkin Vietnam menjadi salah satu pemasok besar sarang walet di luar Indonesia, Malaysia, dan Thailand. “Di sana orang tidak percaya walet dapat dikembangkan di rumah. Mereka hanya tahu walet hanya bisa diternak di gua,” tuturnya. Jumlah rumah walet dapat dihitung dengan jari. Itu pun dikelola sangat konvensional tidak seperti di Indonesia.

Meski demikian, perusahaan minuman segar berbahan sarang walet justru banyak ditemui. Sebut saja Bach Khang, Nguyen Paht, Sanest, Hai Nam, dan Tien Nghiep yang produknya mengisi pasar swalayan dan pasar lokal di Vietnam. Untuk memproduksi minuman berbahan liur walet itu, perusahaan-perusahaan yang mayoritas berlokasi di Ho Chi Minh City itu mengandalkan produksi sarang walet dari gua.

Perkembangan bisnis walet di Vietnam memang terbelakang. Itu lantaran beragam kendala yang seakan memasung, seperti birokrasi pemerintah, teknologi, dan kepercayaan masyarakat setempat. “Meyakinkan penduduk bahwa walet bisa diternakkan di rumah sangat sulit,” ujar Hary. Namun, bila masyarakat sudah percaya dan bisa menggunakan teknologi perwaletan, tidak mustahil negara bekas jajahan Perancis itu bakal menjadi pemasok liur emas besar dari gua dan rumah. (Rahmansyah Dermawan/Peliput: Hary K Nugroho)

Add comment May 31st, 2006

Sarang Walet di Persimpangan Jalan


Oleh trubus
trubus-online.com
Harga sarang walet terus menurun. Dua tahun lalu harga sekilo mencapai Rp16-juta; kini Rp12-juta/kg.
Harga sarang walet terus menurun. Dua tahun lalu harga sekilo mencapai Rp16-juta; kini Rp12-juta/kg. Penyusutan nilai itu tidak lepas dari produksi melimpah dari negara produsen. Bagi pemain baru kenyataan ini seperti mimpi buruk. Sebaliknya gejolak harga itu tidak sampai membuat pemain lama harus menyetop bisnis liur emas itu karena merugi. Maklum overhead cost memelihara walet tetap sangat rendah.

Seleksi alam kini sedang terjadi di antara peternak. Mereka yang gulung tikar umumnya tidak bisa menyikapi kondisi. Produksi sarang sedikit, tapi biaya-biaya lain seperti keamanan dan bahan-bahan bangunan melonjak tinggi. Sementara itu harga jual sarang terus menurun. Apalagi sarang bermutu rendah, untuk menjualnya saja sulit. Kondisi itu diperkirakan akan bertahan. Wajar bila nantinya akan lebih banyak peternak yang berhenti.

Harga sarang memang menjadi kunci langgeng tidaknya bisnis liur Collocalia fuciphaga itu. Beberapa faktor pemicu harga rendah antara lain secara global produksi sarang kini meningkat. Kondisi itu tidak hanya terjadi di tanahair, tapi juga menimpa negara penghasil seperti Malaysia dan Thailand. Jika dibandingkan dengan 10 tahun lalu, produksi sarang walet kini mencapai 3 kali lipat. Diduga jumlah itu terus meningkat dengan pasar terbesar: Cina.

Isu negatif
Parahnya, kini merebak isu negatif seputar kualitas sarang. Bobot sarang ditambah dengan memakai formalin. Agar sarang lebih putih diberi H202. Di Cina sempat tersiar kabar beberapa orang yang mengkonsumsi sarang walet, sakit dan meninggal. Mungkin saja sebetulnya bukan sarang penyebabnya. Namun, karena diberitakan secara besar-besaran di media massa setempat, citra sarang walet sebagai makanan menyehatkan perlahan-lahan luntur.

Hal itu diperburuk lagi oleh ulah segelintir pedagang yang ingin mengeruk untung sebesar-besarnya. Mereka menambahkan bahan-bahan kimia berbahaya yang justru akan semakin memperkuat pendapat sarang walet sudah tidak berkhasiat lagi.

Pengaruh isu flu burung yang menimpa negara penghasil sarang turut memberi andil psikologis bagi konsumen. Mereka umumnya enggan untuk sementara waktu menyantap sarang walet.

Faktor lain seperti lonjakan harga minyak dunia dan konflik politik dan ekonomi terutama yang melibatkan Cina—sebagai penyerap sarang terbesar—ikut berperan terhadap menurunnya harga sarang. Dalam kacamata negara produsen, diharapkan kondisi itu dapat berubah, sehingga penurunan harga tidak terlalu drastis.

Perluas pasar
Untuk menjaga bisnis walet, sambil berharap harga kembali tinggi berbagai langkah perlu dilakukan. Penguasaan teknologi budidaya terus diperdalam sehingga kualitas sarang lebih bagus. Misalnya bentuk utuh menyerupai mangkuk, warna sarang cerah, dan bersih dari kotoran binatang seperti kepinding.

Yang tidak kalah penting, saling menjaga kepentingan peternak, pedagang, dan pemakai sehingga tujuan akhir melanggengkan bisnis walet dapat diwujudkan. Promosi bahwa sarang walet menyehatkan perlu diperluas cakupannya.

Pun memupuk gengsi ketika penyelenggaraan pesta menyajikan menu sarang walet. Demikian pula bagi hotel dan restoran yang menyediakan aneka menu liur emas, harus dipandang sebagai tempat eksklusif. Tren itu sangat terlihat di Guangzhou dan Shenchan di Cina. Pasar sarang sebagai bahan baku kosmetik dan kesehatan sudah dilirik. Beberapa pabrik kini memanfaatkan material sarang sebagai dasar produk kecantikan. Ia dipakai sebagai krim kulit, dibuat kapsul untuk penyegar badan hingga kapsul awet muda. Pemanfaatan itu memang perlu terus didorong hingga nantinya dunia farmasi dan kesehatan menjadi salah satu penyerap sarang terbesar.

Isu walet terserang fl u burung terbukti tidak benar. Orang tidak perlu resah menyantap sarang walet. Meski kandungan nutrisi sarang walet yang berpengaruh untuk kesehatan belum semua diketahui. Beberapa penelitian menyebutkan mengkonsumsi sarang walet meningkatkan daya tahan tubuh. Penelitian itu mempertegas manfaat sarang walet yang sudah dipakai selama ratusan tahun. Namun, untuk lebih banyak mengungkap misteri khasiat sarang walet, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

Di dalam negeri, perlu dibentuk organisasi yang menghimpun peternak dan pedagang. Tujuan utamanya selain mempromosikan kegunaan sarang walet lebih luas, juga menetralkan isu-isu negatif yang berkembang. Organisasi pun berhak menegur bahkan memberi sanksi kepada anggota yang nakal. Dengan demikian bisnis walet akan berjalan lurus. (Dr Boedi Mranata, pakar dan eksportir walet)

Add comment May 31st, 2006


Calendar

May 2006
M T W T F S S
« Apr   Jun »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Posts by Month

Posts by Category