Archive for June 2nd, 2006

Akumulasi Organofosfat pada Walet Sarang Putih (Collocalia fuciphaga)


uajy.ac.id/biota
Agustinus Johan Kuncoro, Yuniarti Aida & Pramana Yuda Fakultas Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta Jl. Babarsari 44, Yogyakarta 55281

Penggunaan pestisida untuk membasmi hama pertanian di satu sisi menjaga produksi pertanian dari gangguan hama, namun di sisi lain juga menimbulkan masalah lingkungan. Satwa liar, termasuk burung-burung, telah teracuni oleh pestisida (Furness, 1993). Penggunaan parathion di Texas telah menyebabkan kematian lebih kurang 1.600 ekor angsa kepala putih dan burung air lainnya di Danau Playa (Flickinger et al. 1984). Hasil survai di beberapa daerah pusat penanaman sayuran di Pulau Jawa dan Bali dan Sumatera menunjukkan kenaikan penggunaan pestisida baik dosis, frekuensi maupun jenisnya (Nugrohati & Kusumbogo, 1986). Namun, kajian tentang dampak penggunaan pestisida di Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya akumulasi organofosfat pada Walet Sarang Putih. Pemilihan burung Walet ini didasari pada peran Walet sebgai pemangsa serangga dan nilai kepentingan ekonomisnya. Sarang burung Walet merupakan komoditas yang bernilai tinggi (Mardiastuti et al., 1998). Sampel berupa tiga ekor burung diperoleh dari Kecamatan Rongkop, Gunungkidul Yogyakarta. Analisis akumulasi organofosfat pada saluran pernafasan, pencernaan dan bulu dilakukan dengan menggunakan cromatography gas. Hasilnya menunjukan ketiganya mengandung organofosfat. Analisis kuantitatif lebih jauh dilakukan pada diazinon – salah satu pestisida organofisfat yang paling banyak digunakan di Yogyakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa rerata kandungan diazinon pada bulu yang terbesar (0,159 ppm), sedangkan kandungan pada saluran pernafasan 0,150 ppm dan pada saluran pencernaan 0,018 ppm. Kandungan diazinon pada burung Walet di Yogyakarta ini berada di batas bawah Batas Maksimum Residu diazinon untuk berbagai komoditas pangan yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI, yakni sebesar 0,1 – 0,7 ppm.


Daftar Pustaka Furness, R.W. 1993. Birds as Monitors of Pollutants. p. 86 – 143. In: Furness, R.W. & J.J.D. Greenwood (eds.). Birds as Monitors of Environmental Change. Chapman & Hall. London. Mardiastuti, A., Y.A. Mulyani, J. Sugarjito, L.N. Ginoga, I. Maryanto, A. Nugraha & Ismail. 1998. Teknik Pengusahaan Walet Rumah, Pemanenan Sarng dan Penanganan Pasca Panen. Laporan Riset RUT IV. Dewan Riset Nasional, Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi. Bogor. Nugrohati & U. Kusumbogo. 1986. Pestisida dalam Sayur-sayuran. Dalam: Prosiding Seminar Keamanan Pangan dalam Pengolahan dan Penyajian. PAU Pangan dan Gizi UGM. Yogyakarta.

Add comment June 2nd, 2006

Indonesia Produsen Sarang Walet Terbesar Dunia

gatra.com

BISNIS yang satu ini tidak terimbas krisis moneter. Makin naik nilai dolar malah makin untung, karena tidak ada bahan yang perlu diimpor. Dan di sektor ini Indonesia merupakan penghasil nomor satu di dunia. “Produksi sarang burung walet di Indonesia setiap tahun diperkirakan mencapai 120 ton,” kata Rosich Amsyari dari Asosiasi Peternak dan Pengusaha Sarang Walet Indonesia (APPSWI) di Semarang, hari ini.

Sarang yang dihasilkan oleh lidah burung tersebut, lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat di kawasan Asia. Yang meliputi Cina, Hongkong, Taiwan, Korea, Malaysia, dan Singapura.

Menurut Amsyari, tingginya produksi sarang burung walet di Indonesia disebabkan suksesnya kegiatan budidaya komoditas tersebut oleh para peternak walet.

Jenis burung walet (collocalia fuciphaga) dapat ditemukan di negara-negara lain khususnya di Asia dengan iklim tropis. “Namun budidaya walet sampai sekarang hanya dilakukan di Indonesia,” katanya.

“Sarang burung walet banyak dihasilkan dari rumah maupun gua. Sebagian besar masih dikelola secara tradisional dan belum dilakukan secara profesional,” katanya pada “Seminar dan Temu Usaha Sektor Agribisnis”.

Akhir-akhir ini produksi dan populasi sarang burung walet di gua semakin berkurang. Naik-turunnya produksi sarang burung walet ada beberapa faktor yang dominan, yakni keadaan iklim (cuaca) yang tidak stabil, sistem budidaya, cara pengutan, dan sistem pengamanan lokasi dari aksi pencurian.

Ia mengatakan, pengusahaan sarang burung walet bukan merupakan pekerjaan yang mudah, karena memerlukan modal dan investasi yang tidak sedikit untuk pembangunan rumah walet.

“Setelah rumah walet mulai menghasilkan masih pula diperlukan pemantauan dan perawatan terhadap koloni burung walet,” katanya.

Dia mengatakan, pengusahaan rumah walet dapat dilakukan melalui pembuatan rumah baru atau modifikasi rumah tua yang telah ada sesuai pola yang ditentukan.

Amsyari mengatakan, pembuatan modifikasi rumah tua yang sedang dihuni burung walet perlu dilakukan secara hati-hati, karena jika tidak memilih waktu yang tepat walet akan kabur ke tempat lain.

“Pembuatan rumah walet baru bisa ditentukan kriteria dan syarat yang harus dilaksanakan, sehingga diharapkan dalam waktu tidak lama walet bisa menempatinya,” kata Amsyari. [Dh, Ant]

Add comment June 2nd, 2006


Calendar

June 2006
M T W T F S S
« May   Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Posts by Month

Posts by Category