Archive for June 7th, 2006

SARANA PENGUNDUHAN SARANG BURUNG WALET ; Mengurangi Risiko, Akan Diganti yang Lebih Modern


kebumen.go.id
kedaulatan-rakyat.com ~ KEBUMEN (KR) - Kondisi medan yang sulit berupa tebing karang yang curam dan ombak yang ganas di bawahnya, menyebabkan proses pengunduhan sarang burung walet di tiga goa pengunduhan, yaitu Goa Karang Bolong, Kecamatan Buayan, Goa Pasir dan Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, dinilai memiliki risiko yang cukup tinggi. Karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen akan berupaya memodernisasi peralatan pengunduhan sarang burung di 3 goa tersebut.

“Selama ini peralatan yang dipakai para pengunduh sangat sederhana, padahal tantangan yang mereka hadapi cukup berat. Untuk mengurangi tingkat bahaya itu, kami berupaya menggantinya dengan peralatan yang lebih modern,” ujar Kepala Kantor Pendapatan Daerah (Kapenda) Kebumen, Muji Raharjo SH, kemarin.

Rencana penggantian peralatan pengunduhan itu menurut Muji berdasarkan pengamatannya terhadap proses pengunduhan sarang burung di tiga goa itu, dalam setahun terakhir ini, ditambah pengalaman pribadinya menuruni tebing dan masuk ke dalam Goa Karangduwur, belum lama ini. Saat itu, tanpa persiapan yang memadai dan masih mengenakan seragam kantor dan tanpa alat pelampung, dirinya berusaha melihat kondisi goa secara langsung.

Dengan petunjuk dari seorang petugas pengunduh, Muji Raharjo memulai pengalaman yang mendebarkan itu. Mula-mula menuruni tebing karang setinggi 50 meter dengan tangga bambu. Sementara di bawah terlihat ganasnya ombak laut selatan. Menjelang sampai di mulut goa, Muji berganti berpegangan pada seutas tali ijuk berdiameter 2 cm.

“Saat berpegangan pada tali, tubuh saya terayun-ayun mengikuti gerakan tali. Rasa ngeri ada, karena bila pegangan terlepas, tubuh saya akan jatuh ke laut,” tutur Muji.

20 Meter

Sampai di mulut goa, Mujipun harus berjalan di atas air sedalam 1,5 meter menuju daratan di dalam goa. Dari tempat ini, dijumpai rangkaian tangga bambu menuju langit-langit goa çyang tingginya sekitar 20 meter. Di langit-langit goa itulah tempat bersarangnya burung walet dan sarang-sarang burung itu menurut tradisi hanya bisa dipetik oleh pengunduh secara turun-temurun. Berhubung dirinya tak ingin melanggar tradisi pemetikan itu, Mujipun hanya bisa melihat-lihat kondisi sarang burung di dalam goa selama satu jam.

“Saat ombak mulai pasang, sayapun harus segera meninggalkan tempat itu. Dan untuk naik, harus pula dilakukan dengan ekstra hati-hati pula,” ujar Muji.

Berdasar pengalaman itu, jajaran instansinya mulai mengevaluasi proses pengunduhan yang sangat berisiko namun hanya menggunakan peralatan yang seadanya itu. Seperti tangga bambu untuk menuruni tebing. Sementara untuk merangkai tangga membutuhkan waktu cukup lama dan harus melibatkan banyak orang.

Dengan alasan untuk menghemat waktu dan tenaga, muncul pemikiran untuk mengganti tangga bambu dengan tangga modern yang bisa dibentangkan dan dilipat kembali. Kemudian, tali ijuk yang digunakan untuk menuju mulut goa, kemungkinan bisa diganti dengan alat semacam rel besi tahan air garam yang dipasang di dinding karang. Sehingga pengunduh bisa berjalan di atas rel itu dengan lebih nyaman.

“Penggunaan tali ijuk sangat berbahaya, karena hanya dikaitkan dengan paku besi yang dipasang sedalam 2 cm ke dinding karang,” ujar Muji.

Muji berharap, rencana modernisasi peralatan itu bisa terealisasi dalam waktu dekat ini, demi efisiensi proses pengunduhan dan menekan risiko yang harus ditanggung pengunduh saat menjalankan tugas. (Dwi/Ths)-c.

Add comment June 7th, 2006

Flu Burung Lumpuhkan Usaha Sarang Walet

INDRAMAYU, (PR).-

pikiran-rakyat.co.id
Penyakit flu burung (Avian influence, AI) ternyata melumpuhkan usaha dan perdagangan sarang burung walet. Memasuki bulan Januari 2006, terjadi kemerosotan harga luar biasa. Bahkan, hingga bulan Pebruari ini mencapai tingkat harga terendah.

Dari pantauan “PR”, Selasa (7/3), harga sarang walet kini berada di bawah Rp 5 juta/kg. Padahal, pada akhir tahun 2005 lalu, harga masih bertengger di atas Rp 10 juta, terutama dengan kualitas super. Bahkan sebelum bulan Oktober 2005 lalu, harganya masih terhitung tinggi, yakni mencapai Rp 15 juta/kg.

Penurunan harga terjadi secara serentak begitu penyakit flu burung menghantui sebagian besar masyarakat di dunia. “Sampai sekarang, harga terus merosot. Bisa jadi, tahun ini sarang walet benar-benar tidak laku dijual,” keluh salah seorang penangkar sarang walet di Jalan Cimanuk, Indramayu.

Para penangkar yang selama ini menikmati kekayaan berlimpah dari penjualan sarang walet, ternyata kini mengakui tak lagi leluasa hidup mengandalkan usahanya itu. “Setidaknya dalam tahun-tahun ini, sarang walet tidak lagi jadi barang eksklusif atau mewah. Bisa-bisa sarang walet dijual di pasaran umum, tentu saja dengan harga rendah. Ini pun belum tentu laku, sebab masyarakat dicekam ketakutan penyakit flu burung,” ujar penangkar sarang walet yang menolak disebutkan jati dirinya.

Bisnis sarang burung walet memang merupakan usaha yang bisa dikatakan misterius. Masyarakat tidak bisa sembarangan membuat panangkaran sarang walet kalau tidak tahu saluran pasarnya. Bahkan saking misteriusnya, untuk pemasaran sarang walet juga dilakukan sangat tertutup (black-market).

Di Indramayu, usaha ini telah digeluti selama ratusan tahun oleh sebagian masyarakat. Dari usaha itu, para pengusaha sarang walet hidup dengan kekayaan yang melimpah. Penangkaran walet di Indramayu tersebar di hampir seluruh kecamatan. Letak geografis Indramayu berpotensi menjadi tempat berkembang-biaknya walet karena selain dekat dengan areal perhutanan dan lautan, juga datarannya rendah.

Menurut para penangkar, produksi sarang walet Indramayu dijual secara khusus kepada pelanggan-pelanggan tetap. Mereka tersebar di sejumlah negara, terutama Singapura, Hong Kong dan Taiwan.

Pendapatan menurun

Dampak merosotnya usaha sarang walet ternyata juga sampai ke dinas pendapatan daerah setempat. Seperti dituturkan Kepala Seksi Penagihan Pajak Sarang Walet, Kamud. Pihaknya kini terkena imbas dari kondisi tersebut, berupa turunnya pendapatan dari sektor pajak sarang walet.

Dituturkan, di Indramayu terdapat 279 wajib pajak (WP) sarang walet. Sejauh ini, targetnya memang belum maksimal, hanya Rp 321 juta, bahkan tahun 2006 ini turun menjadi Rp 287 juta.

Kamud membenarkan bahwa lumpuhnya usaha sarang walet akibat merebaknya penyakit flu burung. Selain itu, juga ada faktor lain, yakni peraturan baru negara-negara pengimpor sarang walet Indramayu seperti Hong Kong dan Singapura.

“Semula impor walet itu bebas bea, tapi kini ada bea masuk yang cukup tinggi. Di Hong Kong, bea masuk bahkan mencapai 40 persen. Flu burung dan pemberlakukan bea masuk jadi penyebab lumpuhnya usaha sarang walet,” ujarnya.(A-93)***
INDRAMAYU, (PR).-
Penyakit flu burung (Avian influence, AI) ternyata melumpuhkan usaha dan perdagangan sarang burung walet. Memasuki bulan Januari 2006, terjadi kemerosotan harga luar biasa. Bahkan, hingga bulan Pebruari ini mencapai tingkat harga terendah.

Dari pantauan “PR”, Selasa (7/3), harga sarang walet kini berada di bawah Rp 5 juta/kg. Padahal, pada akhir tahun 2005 lalu, harga masih bertengger di atas Rp 10 juta, terutama dengan kualitas super. Bahkan sebelum bulan Oktober 2005 lalu, harganya masih terhitung tinggi, yakni mencapai Rp 15 juta/kg.

Penurunan harga terjadi secara serentak begitu penyakit flu burung menghantui sebagian besar masyarakat di dunia. “Sampai sekarang, harga terus merosot. Bisa jadi, tahun ini sarang walet benar-benar tidak laku dijual,” keluh salah seorang penangkar sarang walet di Jalan Cimanuk, Indramayu.

Para penangkar yang selama ini menikmati kekayaan berlimpah dari penjualan sarang walet, ternyata kini mengakui tak lagi leluasa hidup mengandalkan usahanya itu. “Setidaknya dalam tahun-tahun ini, sarang walet tidak lagi jadi barang eksklusif atau mewah. Bisa-bisa sarang walet dijual di pasaran umum, tentu saja dengan harga rendah. Ini pun belum tentu laku, sebab masyarakat dicekam ketakutan penyakit flu burung,” ujar penangkar sarang walet yang menolak disebutkan jati dirinya.

Bisnis sarang burung walet memang merupakan usaha yang bisa dikatakan misterius. Masyarakat tidak bisa sembarangan membuat panangkaran sarang walet kalau tidak tahu saluran pasarnya. Bahkan saking misteriusnya, untuk pemasaran sarang walet juga dilakukan sangat tertutup (black-market).

Di Indramayu, usaha ini telah digeluti selama ratusan tahun oleh sebagian masyarakat. Dari usaha itu, para pengusaha sarang walet hidup dengan kekayaan yang melimpah. Penangkaran walet di Indramayu tersebar di hampir seluruh kecamatan. Letak geografis Indramayu berpotensi menjadi tempat berkembang-biaknya walet karena selain dekat dengan areal perhutanan dan lautan, juga datarannya rendah.

Menurut para penangkar, produksi sarang walet Indramayu dijual secara khusus kepada pelanggan-pelanggan tetap. Mereka tersebar di sejumlah negara, terutama Singapura, Hong Kong dan Taiwan.

Pendapatan menurun

Dampak merosotnya usaha sarang walet ternyata juga sampai ke dinas pendapatan daerah setempat. Seperti dituturkan Kepala Seksi Penagihan Pajak Sarang Walet, Kamud. Pihaknya kini terkena imbas dari kondisi tersebut, berupa turunnya pendapatan dari sektor pajak sarang walet.

Dituturkan, di Indramayu terdapat 279 wajib pajak (WP) sarang walet. Sejauh ini, targetnya memang belum maksimal, hanya Rp 321 juta, bahkan tahun 2006 ini turun menjadi Rp 287 juta.

Kamud membenarkan bahwa lumpuhnya usaha sarang walet akibat merebaknya penyakit flu burung. Selain itu, juga ada faktor lain, yakni peraturan baru negara-negara pengimpor sarang walet Indramayu seperti Hong Kong dan Singapura.

“Semula impor walet itu bebas bea, tapi kini ada bea masuk yang cukup tinggi. Di Hong Kong, bea masuk bahkan mencapai 40 persen. Flu burung dan pemberlakukan bea masuk jadi penyebab lumpuhnya usaha sarang walet,” ujarnya.(A-93)***

Add comment June 7th, 2006


Calendar

June 2006
M T W T F S S
« May   Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Posts by Month

Posts by Category