Archive for June 14th, 2006
ag.ohio-state.edu
Writer:
Kurt Knebusch
Dear Twig: Why do they call it birds’ nest soup? Is it really made out of birds’ nests?
In short: Yes. Birds’ nest soup is a Chinese dish that is made from the nest of a bird called the swiftlet. Swiftlets are small, fast birds of southeast Asia. They build their nests in groups high on cave walls. And they make those nests from something weird: saliva, or spit. Ick! The spit comes out in long, thin strands from glands that are located under the tongue. The strands are woven to make a nest that sticks to the wall like glue.
Ew. (But effective.)
It used to be the nests were harvested once or twice a year. The birds were able to raise their young. But lately, however, demand has soared. People are gathering more and more nests and are doing it more and more often.
Which, of course, is bad for the swiftlets. Scientists say their numbers are falling. If the harvest isn’t reduced, some types could be gone — extinct — in only five or 10 years.
The gooey, gluey, spitty nests actually don’t have much taste. The soup gets its flavor from other ingredients. And, contrary to folk belief, the nests have little nutritional value. They do have a special protein in them, one that boosts immunity. But cleaning the nest before cooking destroys it.
Loogily,
Twig
P.S. Swiftlet cousins in North America include the familiar chimney swift, Chaetura pelagica.
Note: Three swiftlet species are tapped for their edible nests: the aptly named edible-nest swiftlet, the also aptly named (and geographically more specific) Indian edible-nest swiftlet and the black-nest swiftlet. Some pretty thorough details about the swiftlets — their nests, the buying and selling of them, and the environmental issues — are at www.american.edu/TED/SWIFT.HTM, part of a “Trade Environment Database” Web site from American University. (Twig’s been under the weather (bug flu). This column originally ran May 9, 2004.)
“Smart Stuff with Twig Walkingstick,” a service of The Ohio State University College of Food, Agricultural, and Environmental Sciences — specifically, of the Ohio Agricultural Research and Development Center (OARDC) and Ohio State University Extension, both part of the College — is a weekly column for children about science, nature, farming and the environment. For details and to receive Twig free by mail, e-mail or fax, contact Kurt Knebusch, News and Media Relations, CommTech, OSU/OARDC,1680 Madison Ave., Wooster, OH 44691, knebusch.1@osu.edu, (330) 263-3776. Available online at extension.osu.edu/~news/archive.php?series=science.
June 14th, 2006
pontianakpost.com
Singkawang,-Â Asosiasi Pengusaha Walet (APW) Kota Singkawang yang baru saja terbentuk harus memperhatikan masalah penempatan bangunan sarang walet. Bangunan yang ada jangan sampai menganggu lingkungan sekitarnya yang dapat merusak kesehatan dan mengusik bangunan lainnya di kota ini.
“Kita dukung pembentukan APW di kota ini. Mengingat usaha walet ini dapat meningkatkan PAD. Namun demikian, asosiasi ini harus memperhatikan bangunan walet yang selama ini tidak tertata dengan baik,” kata David Junaidi SE,
Sekretaris LSM Lembaga Pengembangan Masyarakat Kota (Gaspemasta) Singkawang. Pembangunan yang ada, harus ada kriteria-kriteria. Sehingga bangunan walet tersebut akan tersusun rapi dan bebas dari hal-hal yang dapat mengundang penyakit. Tapi alangkah lebih baik lagi, bila pembangunan rumah walet itu dibangun di pinggiran-pinggiran kota yang jauh dari pemukiman masyarakat. Sebagai contoh, di daerah manggis perkuburan Tionghoa (perbatasan Singkawang Barat dan Singkarang Tengah). Menurut dia, dengan adanya bangunan sarang Walet di daerah pinggiran kota, selain dapat menjaga keindahan kota itu sendiri juga dapat meningkatkan PAD Kota Singkawang. Serta menambah lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat setempat.
Hanya saja, untuk merealisasikan itu semua diperlukan dukungan dari Pemerintah Kota Singkawang melalui perda walet. Dalam perda itu bisa diatur tata letak bangunannya seperti apa, dengan memperhatikan kriteria-kriteria seperti disebutkan sebelumnya. Tujuannya agar setiap pengusaha walet tidak sembarangan untuk membangun rumah walet itu sendiri. “Kalaupun mereka berani melanggar aturan yang sudah ditetapkan dalam perda, maka yang bersangkutan akan menerima sanksinya sebagaimana tercantum dalam perda itu,”demikian David.
Untuk itu, Gaspemasta mengingatkan kepada pemerintah kota Singkawang untuk segera membahas perda walet yang sudah diajukan draftnya oleh Dinas Agribisnis Kota Singkawang. Jangan terlalu lama mengendap di keasistenan sebelum bermunculan rumah-rumah walet yang bertentangan dengan pola kehidupan bermasyarakat kota Singkawang.
“Lebih cepat membahas perda maka akan menjadi lebih baik,”katanya lagi. Kepada APW sekali lagi ia mengingatkan untuk sementara ini agar dapat terus memperhatikan bangunan-bangunan walet yang akan dibangun di tengah-tegah masyarakat kota Singkawang. ‘Sesama pengusaha hendaknya saling mengingatkan ketika akan membangun rumah walet, bangunlah dengan memperhatikan lingkungan sekitarnya,”tambahnya. (vie)
June 14th, 2006
.kapet.org
BALIKPAPAN ternyata bukan hanya dikenal memiliki potensi sebagai kota transit, tetapi juga memiliki potensi bisnis rumah walet yang cukup besar. Namun sayangnya, hingga kini potensi agribisnis ini belum tergarap maksimal karena dipandang sebagai bisnis yang mengandalkan hoki. Menurut pengamat walet Ir Herman, 90 persen penghasil sarang burung dengan liur ini berjenis walet (collocalia fuciphaga) bukan seriti seperti di Pulau Jawa. “Berdasarkan pengamatan saya beberapa tahun terakhir, jenis walet lebih mendominasi yakni sekitar 90 persen. Tidak seperti di Pulau Jawa hanya 40 persen, sementara 60 persen lagi adalah seriti,” ungkapnya.
Dengan fakta ini, pengembangan rumah walet di Balikpapan memiliki prospek yang besar karena tidak memerlukan dua perlakuan seperti di Pulau Jawa. Pengembangan walet mesti lewat pengeraman telur di sarang seriti dulu, baru walet diperoleh. Berbeda dengan Balikpapan walet telah tersedia dalam jumlah banyak, tinggal mengelolanya lewat rumah walet.
Letak Balikpapan yang berada di pinggir pantai, dekat dengan goa-goa, suhu yang cocok dan memiliki sumber makanan melimpah bagi walet terangnya menjadi faktor pendukung yang sangat bagus untuk bisnis ini. Sementara hingga kini, Balikpapan baru memiliki 15 rumah walet, lima diantaranya adalah rumah baru. Padahal dalam satu kecamatan rumah walet bisa dikembangkan antara 60-70 buah. “Jadi potensi rumah walet masih cukup besar,” tegasnya.
Dengan pengelolaan yang telaten dan penggunaan teknologi yang benar ia yakin potensi sarang walet di Balikpapan bisa tergarap secara maksimal. Berdasarkan hasil penelusurannya sedikitnya Balikpapan memiliki 150 ribu burung walet dan diperkirakan dalam setahun bisa memproduksi 1 ton sarang walet. “Sementara yang tergarap masih kecil,” katanya.
Mengenai lokasi, beberapa titik di Balikpapan masih memiliki potensi untuk pengembangan rumah walet. Kilometer 5,5 sebut Herman salah satu kawasan yang bisa dikembangkan untuk bisnis ini. “Bila dikelola secara benar kami perkirakan dalam tiga tahun investasi dibisnis ini akan kembali,” katanya.
Namun Herman menambahkan potensi walet yang ada di Balikpapan juga dipengaruhi oleh kondisi walet di gua-gua sekitar Balikpapan. Pasalnya walet yang akan bersarang ke rumah walet sebagian berasal dari gua-gua.(bz)
[reported by: KAPET Sasamba]
June 14th, 2006